PERBEDAAN ANTAR-BUDAYA

Rabu, 08 April 2009
BUDAYA BETAWI

Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tiongkok, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an.

Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu.

Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong.


BUDAYA BUGIS
Suku Bugis adalah suku terbesar ketiga di Indonesia setelah suku Jawa dan Sunda. Berasal dari Sulawesi Selatan dan menyebar pula di propinsi-propinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Irian Jaya Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Riau dan Riau Kepulauan, dan bahkan sampai ke Malaysia dan Brunei Darussalam.
Pada abad ke-17 datanglah seorang pemimpin suku Bugis menghadap Raja Banjar yang berkedudukan di Kayu Tangi (Martapura) untuk diijinkan mendirikan pemukiman di Pagatan, Tanah Bumbu. Raja Banjar memberikan gelar Kapitan Laut Pulo kepadanya yang kemudian menjadi raja Pagatan. Upacara adat suku Bugis di daerah ini antara lain :

* Mappanretasi (memberi makan laut) di Desa Pagatan, kecamatan Kusan Hilir, Tanah Bumbu
* Maccera'tasi di desa Sarang Tiung

Sebagian besar suku Bugis tinggal di daerah pesisir timur Kalimantan Selatan yaitu Tanah Bumbu dan Kota Baru.

BUDAYA MINAHASA
Suku Minahasa adalah salah satu suku bangsa di Indonesia. Mereka berasal dari Kabupaten Minahasa provinsi Sulawesi Utara. Suku Minahasa sebagian besar tersebar di seluruh provinsi Sulawesi Utara.

Suku Minahasa terbagi atas sembilan subsuku:

1. Babontehu
2. Bantik
3. Pasan Ratahan (Tounpakewa)
4. Ponosakan
5. Tonsea
6. Tontemboan
7. Toulour
8. Tonsawang
9. Tombulu

Di antara sembilan subsuku di atas, yang termasuk subsuku terbesar adalah : Tontemboan, Tonsea, Tombulu, Toulour, dan Bantik.

Minahasa dahulu disebut Tanah Malesung adalah kawasan di dalam propinsi di semenanjung Sulawesi Utara di Indonesia, sesuatu daerah yang indah, terletak di bagian utara timur pulau Sulawesi, yang mencakup 27.515 km persegi, terdiri dari empat daerah - Bolaang Mongondow, Gorontalo, Minahasa dan kepulauan Sangihe dan Talaud.

Minahasa juga terkenal oleh sebab tanahnya yang subur yang menjadi rumah tinggal untuk berbagai variasi tanaman dan binatang, didarat maupun dilaut. Tertutup dengan daunan hijau pepohonan kelapa dan kebun-kebun cengkeh, tanah itu juga menyumbang variasi buah-buahan dan sayuran yang lengkap. Fauna Sulawesi Utara mencakup antara lain binatang langkah seperti burung Maleo, Cuscus, Babirusa, Anoa dan Tangkasii (Tarsius Spectrum).

Kebanyakan penduduk Minahasa adalah orang yang beragama Kristen, yang ramah dan salah satu suku-bangsa yang paling dekat dengan negara barat. Hubungan pertama dengan orang Europa terjadi saat pedagang Espanyol dan Portugal tiba disana. Saat orang Belanda tiba, agama Kristen tersebar terseluruhnya. Tradisi lama jadi terpengaruh oleh keberadaan orang Belanda. Kata Minahasa berasal dari confederasi masing-masing suku-bangsa dan patung-patung yang ada jadi bukti sistem suku-suku lama.

Di depan pantai kota Manado berada pulau Manado Tua dengan daerah selam yang sangat indah dimana pulau Bunaken jadi salah satu pulau yang terkenal di sekitar linkungan ini.
Minahasa secara etimologi berasal dari kata mina dan esa artinya mina=menjadi, esa=satu atau Maesa. Adapun suku Minahasa terdiri dari berbagai anak suku: Tonsea (meliputi Kabupaten Minahasa Utara dan Kota Bitung), anak suku Toulour (meliputi Kota Tondano, Kakas, Remboken, Eris, Lembean Timur dan Kombi), anak suku Tontemboan (meliputi Kabupaten Minahasa Selatan, dan sebagian Kabupaten Minahasa), anak suku Tombulu (meliputi Kota Tomohon, Sebagian Kabupaten Minahasa, dan Kota Manado), anak suku Panosakan dan Tonsawang, Tounpakewa (meliputi Kabupaten Minahasa Tenggara). Satu-satunya anak suku yang tidak mempunyai wilayah yang tegas yaitu anak suku Bantik (kecuali sebagian anak suku ini tersebar di perkampungan pantai utara dan barat Sulawesi Utara). Masing-masing anak suku mempunyai bahasa, kosa kata dan dialek yang berbeda-beda namun satu dengan yang lain dapat memahami arti kosa kata tertentu misalnya kata kawanua yang artinya sama asal kampung.

Ada juga sebagian kecil orang Minahasa yang memakai marga Jepang karena beberapa orang Minahasa yang menikah dengan orang Jepang dulu namun rahasia. Tanah Minahasa pada jaman purba disebut sebagai Tanah Malesung atau tanah yang berlembah dan bergelombang. Slogan Minahasa: "Si Tou Tumou Tou" yang artinya manusia hidup untuk memanusiakan manusia yang lain, dengan slogan perjuangan "I yayat u santi" yang artinya maju untuk membangun negeri.


BUDAYA KAILI

Suku kaili adalah suku yang mendiami lembah palu. Atau bisa disebut juga sebagai suku asli lembah palu. Masyarakatsuku ini mendiami sebagian besar wilayah sulawesi tengah meliputi Kota Palu, Wilayah kabupaten Donggala, Kabupaten Kulawi, Parigi dan Ampana, Sebagian Kabupaten poso dan sejumlah kecil mendiami kabupaten lainnya seperti Kabupaten Buol dan kabuaten Toli-toli. Ada beberapa pendapat yang mengemukakan etimologi dari kata kaili, salah satunya menyebutkan bahwa kata yang menjadi nama suku orang palu ini berasal dari nama pohon dan buah kaili, yang umumnya tumbuh dihutan-hutan dikawasan daerah ini. Penulis belum pernah membaca penelitian tentang khasanah budayah daerah ini dalam suatu karya ilmiah yang komprehensif mengenai budaya dan tradisi masyarakat ini. Tapi paling tidak berdasarkan penglaman, penulis dapat mengungkapkan bahwa Bahasa Kaili yang menjadi bahasa dmasyarakat ini sangatlah unik dan banyak ragamnya. Misalnya bahasa kaili ledo oleh masyarakat palu, kaili edo bagi masyarakat watunonju, Kaili inja bagi masyarakat Bora, Kaili Tara untuk masyarakat Lasoani, Kaili Ija untuk macyarakat Lambara, Kaili ado untuk masyarakat Pakuli....tobe continued...

BAHASA KAILI DIAMBANG KEPUNAHAN
Suku Kaili merupakan penduduk terbesar di
Sulawesi Tengah, namun bahasa ibu mereka kian jarang terdengar dalam
pergaulan sehari-hari.

Ucapan salam "Nuapa kareba?", yang berarti "Apa kabar?", dan biasanya
dijawab dengan "Kareba nabelo" atau "Kabar baik" jarang terdengar
bukan hanya di ibukota provinsi itu, Palu, tapi juga di banyak wilayah
lain.

Ada kecenderungan, orang Kaili mengenyampingkan bahasa ibu mereka dan
memilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari.

Bahasa Kaili pun hanya menjadi sisipan di dalam Bahasa Indonesia yang
mereka praktikkan, bukan sebaliknya.

Itu juga kerap didapati pada keluarga bersuku Kaili yang tinggal
pinggiran Kota Palu.
Generasi muda Kaili secara perlahan, tapi pasti mulai melepaskan
penggunaan bahasa ibunya dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, peminggiran bahasa tersebut juga terjadi lewat
diskriminasi pengambilan kebijakan pemerintah, di samping tidak adanya
kemauan dari berbagai pihak untuk melahirkan kesepakatan dalam
membentuk pembakuan ketatabahasaan Kaili.

Sekarang gimana menurut kamu,dengan budaya yang begitu beragam,. Apakah kita harus dengan mudah melupakannya begitu saja?


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Poskan Komentar